Apakah budaya penting yang mesti diajarkan pada generasi kita dewasa ini?  Bergerak dari kondisi bangsa yang sedang carut marut saat ini, saya ingin menekankan perlunya inspiring dari suatu gagasan sederhana untuk membentuk karakter generasi lokal guna membentuk karakter generasi secara nasional sebagai satu identitas bangsa. Hemat saya kita mulai saja dari kampung halaman Kabupaten Banggai, termasuk Banggai Kepulauan yang sama kita cintai. Gagasan tersebut adalah suatu strategi penanaman nilai (budaya) yang dapat dioperasionalisasikan dalam wujud visi dan misi bagi siapapun yang akan terpilih sebagai kepala daerah.  Ide tersebut adalah suatu upaya penanaman nilai sehingga menjadi kebiasaan positif untuk meningkatkan kualitas generasi muda agar survive dalam setiap tantangan dimanapun ia berada.  Pertama, penanaman nilai membaca (reading). Kita mungkin tidak kekurangan buku, sebab perpustakaan ada dimana-mana, walau isinya tak pernah bertambah.  Kita juga belum kekurangan guru sama sekali, sebab sekalipun guru bahasa inggris di sekolah saya minus, tetapi masih ada satu-dua guru honorer yang bersedia berjibaku dengan bayaran di bawah garis upah minimum regional (UMR).  Yang jarang pada generasi kita adalah gemar membaca apa saja.  Seingat saya, karena terbatasnya buku tempo dulu, maka buku di perpustakaan SD, SMP dan SMA di sekolah, saya hafal betul judulnya, pengarangnya, dimana letaknya dan relatif tau apa isinya. Saya senang membaca apa saja, mulai dari buku pelajaran di sekolah, koran, novel, kamus, majalah, jurnal hingga buku yang bahkan dilarang oleh guru jaman itu.  Semakin dilarang semakin keras keinginan saya untuk mencari tau apa isi buku itu. Sampai sekarang saya masih suka mengirim buku buat sejumlah guru di kampung.  Saya sangat terinspirasi ketika tinggal tiga bulan di India, kebiasaan membaca membuat mereka lebih produktif di samping Jepang, China, Amerika dan Eropa.  Malaysia menerapkan semua itu sejak generasi mudanya tumbuh di usia 7 tahun.  Pemerintah menyiapkan fasilitas perpustakaan berstandar dimana-mana, termasuk area hospot agar generasi mudanya dapat mengakses informasi kapan saja dan dimana saja. Bahkan kalau anda berkunjung sampai ke pelosok desa di Hyderabad India, kita bisa melihat pusat-pusat informasi untuk masyarakat miskin. Jangan heran kalau seorang petani kelor dan popoki (terong) disana tak bisa dibohongi padola (tengkulak), sebab sebelum hasil pertanian di angkut ke pasar induk mereka sudah tau berapa harga pokoknya.  Darimana informasi itu? Tentu saja dari teknologi informasi dipedesaan. Sebuah strategi pemberdayaan masyarakat yang ril. Bandingkan dengan kita,  dapatkah kita menemukan area hospot untuk internetan di lingkungan perkantoran Pemda, DPRD, atau kantor pemerintah lainnya? Syukur-syukur kalau generasi muda kita dapat mengakses e-library lewat warnet di pusat perkotaan.  Tugas pemerintah sebenarnya adalah mendekatkan informasi tersebut agar masyarakat cerdas serta mampu berkompetisi dimana saja.  Tugas ini sesuai dengan perintah Tuhan dalam Al-quran, yaitu iqro (bacalah).  Lalu, mengapa pemerintah malas melaksanakan perintah Tuhan hanya untuk memfasilitasi masyarakat membaca? Kedua, membudayakan agar generasi kita suka menulis (writing). Menulis mengajarkan pada kita suatu cara untuk bertanggungjawab serta mampu meletakkan sejarah sehingga dapat dibaca, dipelajari, dimaknai serta dicontoh oleh generasi selanjutnya.  Mengapa orang suka menulis biografi kepemimpinan kepala daerah? Supaya kita dapat memaknai dan mencontoh kepemimpinan positif dimasa lalu.  Mereka yang suka membaca biasanya menuangkan gagasan baru dalam bentuk tulisan.  Salah satu kemajuan Islam karena di topang oleh hasil karya tulis para pemikir Islam.  Konon laut hitam di timur tengah adalah sisa abu pembakaran buku hasil karya tulis para pemikir Islam.  Bahkan, pemikir kaliber sekelas Aristoteles, Socrates dan Plato banyak berkiblat dari hasil karya para pemikir Islam seperti Ibnu Sina.  Generasi muda mutlak diajarkan menulis, supaya mereka dapat menggambarkan kekuatan dan kelemahan dirinya, lingkungannya, daerahnya, bahkan bangsa sendiri.  Saya suka miris kalau membaca sejarah pemerintahan di Sulsel, sebab hampir semua perpustakaan lokal dan nasional mudah mendapatkan referensi kerajaan Gowa, Tallo dan Bone. Jangan tanya soal heroiknya kepemimpinan Sultan Hasanuddin, semua buku pasti menulis tentang sepak terjang si ayam jago dari timur.  Tapi cobalah tanya generasi muda kita pernahkah mereka membaca buku tentang sejarah Banggai dan Banggai Kepulauan? Berapa banyak buku tersebut di cetak? Dimana disimpan? Adakah tersimpan dan mudah diperoleh di setiap sekolah, kantor pemerintah dan perpustakaan? Apakah kita paham asal-usul suku asli Banggai dan Banggai Kepulauan? Dari mana suku Saluan, Balantak dan Banggai pertama kali ada seperti cerita Maha Karya I Laga Ligo di Sulawesi Selatan? Atau bagaimana asimilasi suku Bajo, Gorontalo, Bugis dan Jawa melengkapi kebhinekaan di kampung kita? Selain kurangnya referensi, kebutaan terhadap sejarah terkadang menciptakan keraguan tentang siapa diri kita sebenarnya.  Saya menaruh kira, konflik horisontal para kandidat raja di daerah-daerah kemungkinan terjadi akibat distorsi sejarah dimana terdapat ketidakpastian silsilah raja oleh para penulis sejarah.  Kita tidak tau pasti mana raja dan mana hulubalang.  Jangan-jangan raja jadi hulubalang, hulubalang malah jadi raja benaran.  Maka tak perlu geli kalau banyak orang mengaku raja dimana-mana. Ketiga, menumbuhkan kegemaran generasi muda kita untuk berbicara (speaking).  Lewat bicara kita dapat mengartikulasikan semua isi bacaan dan tulisan yang telah kita serap dengan baik.  Kesukaan saya menyimak pelajaran dari guru Bahasa Indonesia di sekolah saya, karena kemampuan beliau mengkomunikasikan semua pesan  lewat simbol pembicaraan yang lugas.  Intinya, kita perlu membiasakan generasi muda agar mampu membangun komunikasi dengan baik, sehingga terjamin kualitas hubungan pada derajat yang lebih tinggi.  Sejak kecil kita perlu membiasakan agar anak kita mampu menyampaikan pesan lewat tata krama alias sopan santun.  Tanpa itu, pembicaraan sebagai instrumen komunikasi dapat berubah menjadi anarkhi.  Lihat saja, mengapa Kepala Daerah dan DPRD suka tersinggung kalau penyampai kepentingan berbicara tanpa kualitas dan sopan santun yang baik.  Demikian sebaliknya, mengapa rakyat muak dengan komunikasi yang dibangun oleh Kepala Daerah, DPRD dan aparatnya, sebab selain isi pesannya tidak jelas, kabur, remang-remang, tidak pasti, lebih dari itu pembicaranyapun tak punya kompetensi yang cukup.  Keempat, kita perlu menumbuhkan budaya untuk mendengar (hearing).  Kawan-kawan saya di legislatif sering di kritik karena kurang mendengar.  Saya yakin, dari aspek medik mereka bukan terganggu pendengaran, sebab sebelum masuk menjadi anggota dewan biasanya sudah lewat test kesehatan.  Yang saya kuatirkan kalau mereka secara psikologis memang kurang mau mendengar.  Akibatnya bukan saja apatis, juga autis. Bahkan yang jarang sholat jangan-jangan sudah ateis pula.  Kalau legislatif sudah sering mendengar keluh kesah masyarakatnya, maka giliran berikutnya Kepala Daerah juga harus banyak mendengar.  Mengapa? Karena kupingnya memang terbatas, hanya dua, ditambah wakil bupati total 4 kuping.  Kalau anggota dewan terdiri dari 25 orang, bukankah ada 50 kuping yang melakukan hearing setiap hari.  Sekarang, kalau legislatif dan Kepala Daerahnya sudah sering mendengar dan mencoba merealisasikan semua keluhan masyarakat, minimal menyalakan lampu listrik sepanjang pertandingan piala dunia, kini giliran kita sebagai rakyat harus patuh mendengar apa pesan mereka untuk dilaksanakan.  Kalau budaya mendengar generasi muda kita sudah kian pudar, maka nasehat orang tua tak akan di gubris, bahkan diludahi.  Jika demukian, bukankah pemerintah, saya dan anda sekalian tanpa sengaja sedang membiarkan terbentuknya karakter si Malin Kundang? Maka, cobalah belajar mendengar supaya kita menjadi santun, rendah hati dan tidak sombong.  Ingat, kebanyakan berita dari semua kitab suci, lebih-lebih Al-Quran, bahwa suatu masyarakat di adzab Tuhan karena tidak suka mendengar peringatanNya.