Nasib pohon mangga dan pohon kelapa di kampung saya persis nasib warga Palestina dihadapan tentara Israel.  Beresiko kalau hidup dan tumbuh sembarangan, apalagi kalau di taksir sudah tua oleh tengkulak (padola) dan malang melintang dipinggiran jalan.  Pasti di sensor layaknya film blue.  Dulu kalau musim mangga, saya suka mengendap-ngendap dini hari buat memungut buah mangga yang berjatuhan disekeliling pohon.  Pohon siapa saja, asal berbuah dan tak di jaga dengan ketat. Maklum, di kampung saya pohon mangga tumbuh liar dimana saja, ada yang bertuan, ada pula yang dianggap milik bersama. Pohon mangga yang tumbuh di hutan belantara dianggap tak bertuan, silahkan saja siapa yang duluan datang dan menemukan buah mangganya.  Di kampung saya kalau soal buah mangga mereka tak ambil pusing, sebab selain membantu membersihkan halaman kalau datang musimnya, juga mengurangi kotoran sapi yang juga tak ketinggalan ikut berkompetisi.  Saya pikir ini bukan soal mangganya, yang berkesan adalah perburuan di tengah malam buta dengan kawan-kawan yang se-ide. Siapa yang mampu membawa pulang buah mangga sebanyak-banyaknya berarti dialah yang terhebat. Kecuali itu, ada beberapa pohon mangga yang memang dijaga ketat oleh pemiliknya. Kita bilang pemiliknya sikakar (pelit).  Cirinya bisa dilihat kalau pagarnya pakai sabuk kelapa kering yang tinggi dan rapat, tiap dua jam dikontrol dengan senter, pakai tuba (ombo’) dan anjing penjaga kebun. Sebagian kawan-kawan se-angkatan saya tak peduli sekalipun ada ombo’, sebab mereka juga suka pakai penangkal sebelum berburu buah mangga. Yang parah kalau pemiliknya suka mengecat pohon mangga dengan tai sapi, alamat badan kawan saya pulang dengan bau tai sapi yang belepotan hingga ke bagian kaki, paha, perut, dada, leher, pipi.  Ada bahkan yang kemakan sedikit tai sapi.  Terpaksa mandi wajib.  Semua itu menjadi kenangan pahit sekaligus menyenangkan kalau diceritakan kembali.  Tetapi untuk apa saya bicara soal ini? Saya hanya ingin membagi keprihatinan atas nasib pohon mangga dan pohon kelapa yang gandrung diburu oleh pedagang dari pulau Bali dan Jawa.  Maklum, di pulau Bali dan Jawa pohon mangga dan kelapa sudah semakin langka.  Pohon kelapa adalah tanaman jangka panjang, sebab itu mereka malas menanam, mereka lebih mengandalkan tanaman jangka pendek seperti padi dan sayur-mayur.  Mereka tinggal dibawah lereng-lereng gunung berapi, berharap sepeninggal wedhus gembel maka tanah mereka akan menjadi subur kembali sehingga bisa ditanami dengan baik.   Di Bali, pohon mangga dan pohon kelapa sudah bisa dikira dengan jari, sebab yang tumbuh di pulau kecil itu adalah hotel, cottage, mall, pasar modern, spa dan sauna serta seribu satu macam bangunan buat hiburan yang memanjakan turis domestik dan asing.  Itulah mengapa harga sebuah mangga dan kelapa bisa lima kali lipat dibanding harga di kampung saya.  Pohon mangga dan pohon kelapa diburu oleh pedagang dari Jawa untuk dimodifikasi menjadi furniture yang natural, kuat, unik, klasik serta terkesan mahal.  Harga jual pohon mangga dan pohon kelapa di Jawa, semeter bisa mencapai lima kali harga beli di kampung saya. Itulah mengapa mereka memburu sampai ke daerah pesisir Sulawesi.  Pohon mangga berbuah berdasarkan musim, dapat tumbuh disembarang tempat dan bertahan dengan pohon yang mengakar kuat selama berpuluh-puluh tahun.  Demikian pula pohon kelapa, satu pohon yang diciptakan Tuhan dengan penuh manfaat.  Mulai dari akar, batang, daun, buah hingga pucuk mudanya hampir tak ada yang tersisa untuk digunakan.  Anda bisa menemukan hasil karya dari pohon kelapa mulai dari kursi, bangunan rumah, sapu, sendok, minuman, makanan hingga sayuran dari pohon kelapa.  Sayangnya untuk pohon kelapa yang panen setiap tiga bulan sekali itu kita harus sabar menunggu bertahun-tahun, bahkan sampai dua generasi baru bisa dipanen dengan baik.  Dikampung saya, mereka yang mengelola pohon kelapa hari ini sebagai sumber mata pencaharian pastilah generasi kedua dan ketiga dari nenek mereka yang menanam tempo hari.  Sebagian pemiliknya biasanya orang Arab dan China, sedang kelompok pribumi hanya menjadi pekerja kasar (buruh). Syukur kalau lagi panen buah kelapa, masyarakat suka kebagian kulit kelapa kering (tampurung) dan sabuk kelapa yang boleh diambil sendiri, asal daging kelapanya dikembalikan. Ini merupakan bentuk simbiosis mutualisme antara pemilik dan masyarakat sekitarnya.  Saya sadar inilah salah satu alasan mengapa jaman dulu orang tua kita jarang konflik diantara pemilik dan yang bukan pemilik.  Sekarang, kalau semua pohon mangga dan pohon kelapa tersebut anda tebang dan jual seenaknya kepada para pedagang, maka saya yakin sepuluh tahun kedepan kita akan sulit mendapatkan buah mangga dan kelapa, kecuali berharap dari belas kasihan negeri Bangkok, yaitu Mangga Bangkok dan Kelapa Bangkok.  Dulu para tengkulak yang paling pelit sekalipun hanya menaksir jumlah buah lalu memborong dengan harga rendah. Sekarang, para tengkulak tersebut bukan menaksir berapa jumlah buah mangga dan buah kelapa, tetapi yang ditaksir dan diborong adalah berapa meter tinggi pohon mangga dan pohon kelapa.  Anda dan saya bisa bayangkan, sepuluh tahun lagi anak cucu kita tak akan pernah tau bagaimana bentuk dan rasa buah mangga dodol serta mangga kuini.  Kedua pohon tersebut tinggal menjadi sejarah yang bisa dilihat di museum nasional Jakarta sebagai salah satu buah yang mengalami kepunahan. Bisa saja!