Moralitas publik figur selalu menjadi fenomena paling menarik dimanapun mereka berada. Clifford Geerts dalam Thomas Koten (2010) misalnya mengatakan bahwa mereka setidaknya diperlakukan sebagai examplary center, suatu pusat yang penuh teladan.  Kita sering meneladani public figur dari aspek pikiran, sikap maupun perbuatan.  Bagi kita sebagai masyarakat agama memiliki figur para nabi, sahabat hingga para tokoh agama sebagai figur utama dalam rujukan dialog, dasar keberimanan hingga perbuatan sehari-hari.  Tokoh besar sepanjang sejarah seperti Nabi Besar Muhammad Saw, Isa as dan Budha Gautama merupakan teladan yang tak mungkin bergeser setiap hari untuk disebut oleh penganutnya masing-masing.  Pada masyarakat intelektual seringkali mengadopsi public figur yang memiliki pengetahuan luas seperti para filosof, guru besar, para pakar, hingga siapa saja yang memiliki pengetahuan melebihi rata-rata hingga dapat dijadikan rujukan akademik pada setiap seminar. Bagi pendidik seperti saya misalnya, nama besar Plato, Aristoteles, Socrates atau Ibnu Khaldun menjadi sumber inspirasi analisis pada hampir semua induk dan cabang pengetahuan. Pada kelompok masyarakat penyuka seni hiburan musik, public figur menjadi semacam idola yang kadang histeris jika bertemu secara langsung. Segmen ABG (Anak Baru Gede) misalnya, figur semacam Ariel Peterpan, Luna Maya atau Cut Tari tentu saja menjadi sosok yang sangat mungkin di idolakan. Dalam panggung politik, elite politik seringkali menjadi public figur.  Politisi semacam Ruhut Sitompul dan Andi Mallarangeng tentu memiliki gaya yang khas dalam mengartikulasikan kepentingan sehingga memiliki tempat khusus pada masing-masing basis konstituen. Secara umum, setiap segmen sosial memiliki public figur yang selalu dipuja dan dipuji sepanjang masa.  Dalam konteks ini kita boleh menyebut mereka sebagai elite, yaitu kelompok sosial yang memiliki keunggulan, kesempurnaan atau nilai utama.  Bahkan, pada sejumlah barang mewah dan tampak sempurna disiapkan etalase sebagai tempat menarik untuk diminati, bahkan dibeli kalau perlu. Mungkin itulah mengapa dalam banyak kasus beberapa artis suka dipajang dan dibeli seperti etalase di pertokoan.  Problem kita adalah, apakah semua pikiran, sikap dan perbuatan mereka dapat dijadikan tauladan?   Ditengah masyarakat yang kompleks dewasa ini, public figur dapat menjadi pilihan buah simalakama. Bagi public figur yang menampilkan kesholehan, sekalipun tinggal menjadi catatan sejarah tentu menjadi tauladan universal bagi semua segmen sosial sejak anak-anak hingga dewasa.  Para nabi tentu saja menjadi teladan baik pikiran, sikap maupun perbuatan.  Demikian pula para pemikir dan pembaharu pada setiap jaman.  Sebaliknya, public figur yang menampilkan sedikit keunikan seringkali menjadi contoh yang bersifat temporer.  Segmen sosial anak muda misalnya, cenderung meneladani artis maupun aktor yang dekat dengan kehidupannya.  Mereka yang senang dengan Michael Jacson suka menirukan style, suara, tarian hingga model rambut.  Di Indonesia, ketika orang tua kita gandrung dengan figur Raja Dangdut sekelas Rhoma Irama, maka pakaian, gaya, rambut hingga suaranya yang penuh gelombang dan kharisma ditiru mentah-mentah, padahal suara mereka kadang cempreng dan fals.  Demikian pula gaya group band rock anak muda Chang Chutter yang fun, rambut lebat, unik dan sempit celananya.  Pendek kata, setiap orang yang ngefans akan meniru semaksimal mungkin agar mirip dengan idolanya.   Parahnya, ketika beberapa figur tersebut mempertontonkan perilaku yang kurang etis, jauh dari ketauladanan baik pikiran, sikap maupun perbuatan maka tanpa disadari sesungguhnya mereka sedang mendzolimi public yang selama ini menjadikan mereka sebagai ukuran nilai tertinggi dari berbagai aspek kehidupan.  Sadar atau tidak, semakin banyak public yang menjadikan seorang figur dewasa ini sebagai examplary center, maka semakin banyak calon korban atas distorsi moral yang dilakukan oleh figur ketika kesempurnaan atau keunggulan nilai yang selama ini mereka contohkan mengalami depresiasi dan bukan apresiasi.  Pada sisi lain, ketiadaan figur sebagai standar nilai (uswatun hasanah) dalam realitanya mendorong publik suka menyerap sosok apapun yang menyenangkan secara nyata.  Mereka yang jauh dari nilai agama, kurang tercerahkan serta berada di bawah garis kemiskinan cenderung menyenangi figur yang mampu menyenangkan walau sesaat, seperti menikmati goyangan dangdut Inul Daratista, Dewi Persik, Trio Macan, termasuk menikmati video parno yang mengganggu kestabilan moral dan emosi publik. Bagi mereka, figur para nabi teramat absurd, sedangkan figur para artis dipandang lebih realistik.  Kini, tugas kita adalah bagaimana memproduk public figur yang memiliki karakter kesholehan individu untuk menularkan kesholehan sosial sebagaimana pikiran, sikap dan tindakan kaum sholihin dimasa lalu.