Dalam tulisan terdahulu, saya mencoba membandingkan secara kualitatif  perkembangan Pulau Bajo dengan Pulau Singapura sebagai pulau yang sama-sama memiliki karakteristik yang unik.  Sekali lagi, saya tak membandingkan Pulau Bajo dengan Negara Singapura, tetapi objek bandingannya adalah pulau dengan pulau. Sama halnya dengan membicarakan Pulau Peling, Pulau Mayayap atau Pulau Keramat di gugusan laut banggai.  Lewat harian ini saya juga berterima kasih atas apresiasi dari berbagai kalangan yang tekun membaca topik diskusi pendek di rubrik ini.

Sekarang, bagaimana melihat Desa Salodik di ujung Kecamatan Luwuk?  Saya pikir objek bandingannya adalah daratan Bangkok, sebuah negara tetangga yang baru selesai dilanda konflik politik.  Apa yang menjadi core competence (sektor unggulan) negara itu? Secara umum, Bangkok hidup dengan dua sektor unggulan, yaitu sektor pertanian dan pariwisata.  Di kampung saya, sejak kecil kalau anda punya seekor ayam bangkok, maka serasa andalah orang yang paling beruntung menjadi buah bibir dimana-mana karena mampu menundukkan seluruh ayam di kampung sendiri.  Di benak kita, ayam kampung hanya untuk di makan, setidaknya melambangkan kesejahteraan, sedangkan ayam bangkok untuk bertanding, sekaligus melambangkan kekuatan.  Bahkan, ketika di depan rumah saya tumbuh sebatang pohon jambu bangkok, almarhum ayah saya suka menjaga siang malam karena bangga bisa memberi tamu atau siapa saja yang ingin mengecap rasa jambu bangkok, kendatipun bagi kami sendiri terasa kurang.  Ayah saya sangat bangga kalau bisa memetik dan memberi jambu Bangkok pada orang yang kebetulan lewat di depan rumah. Sekarang, di depan rumah saya tinggal seonggok bambu kuning dari China.  Mungkin beliau menyuruh saya agar belajar hingga ke negeri China, sebagaimana anjuran Nabi Muhammad SAW.  Saking banyaknya produk pertanian dari Bangkok, maka semua buah yang bentuknya gede (besar) pasti di klaim berasal dari Bangkok. Sebut saja satu persatu seperti pepaya bangkok dan durian bangkok.  Sektor unggulan kedua Bangkok adalah pariwisata, lihat saja turis ke Bangkok hampir sama jumlahnya dengan turis di Bali.  Selain pemandangan pantai yang indah (Puket dan Pathayya), budaya Bangkok yang khas menjadi komoditi menarik bagi turis mancanegara (cari saja menu Tom Yang).  Lalu dimana sektor unggulan Salodik?  Menurut pendapat saya relatif sama dengan Bangkok, yaitu pertanian dan pariwisata.  Salodik kaya dengan hasil pertanian jangka pendek, sebab selain berada di ketinggian juga memiliki iklim sejuk dengan sumber mata air yang jernih.  Tentu saja kita dapat menanam sayur-mayur dan buah-buahan sesuai kondisi alamnya.  Kalau saja masyarakat dan pemerintah serius menjadikan wilayah ini sebagai lahan strategis pertanian jangka pendek, maka bukan mustahil kita bisa menggeser klaim bangkok dalam 10 tahun ke depan dengan istilah Salodik.  Seperti jambu salodik, pepaya salodik, ayam salodik, durian salodik, cengkeh salodik, wortel salodik, terong salodik atau bayam salodik.  Praktis semua sayur-mayur dan buah-buahan segar dan gede (besar) pasti berasal dari salodik.  Sektor unggulan kedua Salodik adalah pariwisata.  Lihat saja betapa indahnya alam disana, sampai-sampai anak saya yang masih berumur 10 tahun tidak percaya bahwa ternyata lukisan pemandangan dengan air terjun indah yang di jual di salah satu mall Jakarta benar-benar ril ada di kampong saya, namanya Salodik.  Sayangnya, pengelolaan alamnya sebagai komoditi pariwisata yang berada strategis diantara Kecamatan Pagimana dan Luwuk belum tersentuh dengan baik.  Kepemilikan lahan di sisi sungai seharusnya dapat dikelola pemerintah dan pihak swasta.  Sekiranya ini dapat dikelola dengan maksimal, kita dapat membayangkan area tersebut minimal sama dengan pengelolaan air terjun di Bantimurung Kabupaten Maros Sulawesi Selatan.  Sungai yang jernih dari air terjun disana menghasilkan income hingga 25 persen dari total PAD Kabupaten Maros.  Jangan bilang kalau dekat bulan puasa dan musim liburan, kepadatan pengunjung tak bisa dihitung dengan jari.  Lalu, apa yang perlu dilakukan di Salodik? Jawabannya jelas, carilah investor yang tepat supaya sungai di Salodik benar-benar terurus dengan baik.  Bawa sebagian jajaran dinas pariwisata, anggota dewan yang terhormat, perguruan tinggi, pers lokal, LSM dan tokoh masyarakat di salodik (Kades, anggota BPD, Toga dan Tomas) cari waktu berkunjung ke Bantimurung Maros.  Catat dan pelajari apa yang bisa dilakukan agar kawasan tersebut dapat segera berubah dengan cepat. Musyawarahkan, lalu putuskan dengan sebaik-baiknya dalam bentuk Perda, kemudian biayai dengan teratur dalam 5 sd 10 tahun kedepan. Kemudian evaluasi hasilnya, apa yang terjadi. Kalau perlu, investasikan kereta gantung (Gondola) dari bukit keles langsung ke Salodik.  Pasti menarik dan padat pengunjung.  Daerah kita berbukit-bukit, tinggal bagaimana menatanya tanpa merusak alamnya. Kalau suatu saat anda naik Gondola dari bukit keles ke Salodik, saya yakin anda akan bangga melihat kota air luwuk dengan penuh tetesan air mata, sama ketika pengalaman saya pertama kali naik Gondola di Taman Mini Indonesia Indah, Ancol, Malaysia dan China.  Saatnya kita butuh eksplorasi dan kesadaran seluruh masyarakat untuk mendukung sektor unggulan tersebut.  Pada momentum bulan ini, hemat saya mengapa kegiatan Pramuka tidak diarahkan ke wilayah tersebut, supaya generasi muda dan masyarakat sadar akan alamnya yang amat kaya raya. Ketika saya bertugas lama di Sulawesi Selatan, hampir semua kegiatan kepramukaan dilaksanakan di sekitar lokasi Bantimurung, termasuk Jambore LKMD.  Saya baru paham, ternyata pemerintahnya sengaja menjual daerah tersebut agar menjadi sentral pariwisata kelas nasional, bahkan international.  Generasi muda kita seharusnya sadar akan alamnya, itulah mengapa semua kegiatan kepanduan sekelas Pramuka selalu dilaksanakan di Cibubur dan Jatinangor yang alamnya sangat indah.  Mengapa? Supaya mereka dapat hidup berdampingan dengan alam, menimba ilmu dari alam, berteman dengan alam, menguasai alam, tidak merusak alam, melindungi alam, mampu memanfaatkan sumber daya alam serta dapat menjaga kelestarian dan keseimbangan alam bagi kebutuhan umat manusia dari waktu ke waktu. Bandingkan kalau kegiatan Pramuka itu dilaksanakan di dekat kawasan kota modern, penuh kantor dan perumahan elit, maka kesadaran apakah yang dapat kita peroleh dari generasi muda di kemudian hari?  Dapat dipastikan, mereka buta soal alam, tak paham seluk belum alam, bahkan sebaliknya konsumeristik, serba plastik dan jauh dari karakteristik wilayahnya.  Bukankah ketika kita menilai Pramuka berprestasi bergantung pada bagaimana mereka hidup dengan memanfaatkan alam secara berimbang? Jadi, kalau masih ada anggota pramuka yang semua kebutuhannya bergantung di pasar inpres luwuk misalnya, termasuk membeli tali rafia untuk mendirikan tenda, maka dapat disimpulkan bahwa organisasi kepanduan paling bergengsi di Indonesia ini telah gagal membentuk karakter generasi mudanya.