Semasa kecil saya sering dikenalkan dengan adat di kampung.  Saya mengenal simbol-simbol adat dari pernak-pernik orang kawinan, sunatan, hingga kesenian pada setiap festival tingkat kecamatan.  Sekali waktu saya diminta menari dalam pakaian adat Gorontalo di Desa Lambangan.  Disitu saya mengenal sepintas berbagai jenis kesenian. Yang hebatnya, hadir pula tokoh adat dengan ragam pakaian yang benar-benar merepresentasikan budaya dan adat dari etnik Saluan, Balantak, Banggai,Gorontalo, Butun, Bugis, Bajo, hingga Jawa.  Saya tak ingat pasti berapa banyak etnik yang terwakili, jenis pakaian yang digunakan waktu itu, serta apa makna dari pakaian yang digunakan, sebab saya sendiri sibuk dengan peran yang harus dimainkan sebagai penari.  Prosesi ini semacam pertemuan adat tahunan. Dari situ saya coba membangun komunikasi dengan rekan sesama profesi. Saya agak kikuk, sebab saya sebenarnya lebih fasih berbahasa Saluan sekalipun berbalut pakaian adat Gorontalo.  Saya sadar sekalipun bahasa Saluan saya struktur maupun grammarnya terkadang tak tersusun rapi, tapi saya bersyukur sebab saya bisa berkomunikasi aktif sekaligus paham arti yang sesungguhnya.  Saya bisa demikian berkat keluarga ibu saya yang menurunkannya secara verbal pada komunitas masyarakat yang kebetulan familiar berbahasa Saluan daripada bahasa lain.  Mungkin juga karena saya lahir di dusun Lingku’an Basabungan, sehingga lidah saya lebih bisa berbahasa Saluan. Saya bahkan bisa berkomunikasi dengan baik kalau kebetulan berlibur ke desa Nambo, Mondono, Kintom atau Batui, tempat keluarga dari pihak Ibu saya tumbuh dan dibesarkan.  Saya juga heran, mengapa saya tak begitu lancar dan paham bahasa Ayah saya. Kalau dipikir-pikir seharusnya saya lebih bisa berbahasa Gorontalo dibanding Saluan, sebab keluarga Ayah saya lebih dominan menggunakan bahasa tersebut khususnya di wilayah Bualemo dan Longkoga, tempat dimana keluarga dan Ayah saya tumbuh dan berkembang dengan baik.  Kecuali saudara-saudara saya yang masih menetap di kampung, mereka tentu saja paham dan bisa berbahasa Gorontalo dengan fasih, maklum mereka lebih lama menetap di kampung dibanding saya yang lama merantau.  Tapi saya tak kurang hati, sebab menjawab kawan-kawan lama dalam bahasa saluan lewat teknologi handphone buatan eropa tentu sama artinya dengan menempatkan bahasa ibu saya dalam lalu lintas komunikasi di dunia maya.  Jujur, saya juga bisa berbahasa sunda secara pasif, sebab saya lama sekolah di Bandung.  Berbeda dengan bahasa Inggris yang memang sejak kecil diajarkan oleh guru di tingkat dasar hingga menengah atas.  Saya bahkan baru bisa mempraktekkannya ketika di undang pertama kali ke luar negeri, yaitu Hyderabad, India, awal tahun 2004.  Untuk bahasa Bugis, saya baru bisa menggunakan aksen dan puluhan kosa kata lainnya berkat pengalaman tugas di Sulawesi Selatan dan bertemu mantan pacar saya yang saat ini telah menjadi istri terbaik saya.  Kata pepatah, bahasa menunjukkan bangsa. Bahasa mencerminkan kepribadian, wawasan dan keluasan hubungan dengan orang lain.  Kalau kita bisa berbahasa apa saja, saya yakin kita akan menjadi bagian dari komunitas dimana saja sebagai bentuk apresiasi. Bahasa juga menggambarkan identitas diri dan lingkungan kita.  Seorang kawan saya sekalipun lama di Amerika, namun dalam lingkungan keluarganya mereka selalu bercakap dalam dialek daerah yang kental.  Luar biasa, sepertinya mereka tak ingin kehilangan muatan lokal.  Saya pikir ini baik, sebab berapa banyak bahasa yang punah di dunia ini  karena tak lagi dipercakapkan sehari-hari.  Sayang sekali saya tak bisa berbahasa Bajo dan Banggai.  Padahal jarak keluarga saya di kampung Bajo tak begitu jauh, bahkan kelihatan jelas dari lepas pantai.  Kalau saja kita menguasai bahasa daerah dengan baik, saya yakin kita mampu menelaah lebih jauh adat istiadat kita.  Saya heran, mengapa bahasa kaum elit di daerah seringkali susah dipahami.  Kadang-kadang membingungkan, tak jelas serta bermakna ganda.  Membingungkan, karena setiap statmen yang mereka obral penuh dengan janji ketidakpastian sehingga membuat bingung masyarakat.  Tak jelas, sebab mereka sendiri tak familiar menggunakan bahasa daerah dalam lingkungan keluarganya.  Rasanya lebih bangga kalau dapat berbahasa asing setiap saat.  Bermakna ganda, karena setiap perintah dalam barisan kata maupun kalimat yang dikeluarkan mengandung arti lebih dari satu pemahaman, sehingga rakyat boleh mengerjakan kedua-duanya, atau tidak sama sekali.  Mereka yang memiliki bahasa dengan peringkat halus, sedang dan kasar menunjukkan kebudayaan yang tinggi.  Itulah mengapa dalam berbahasa Sunda misalnya, kita mesti berhati-hati agar tau dengan siapa kita berhadapan untuk mencegah kesalahpahaman dalam menilai kelas seseorang.  Semakin halus anda berbahasa, semakin jelas menunjukkan dimana kelas anda dalam stratifikasi sosial.  Tapi dalam konteks bahasa asing, kalau saya boleh disuruh memilih, maka saya lebih senang memilih bahasa Arab, sebab lebih terkesan konsisten. Dalam bahasa Arab, antara tulisan dan bacanya pasti sesuai.  Ini berbeda dengan bahasa Inggris.  Demikian pula antara kata yang beraturan dan tak beraturan.  Kata yang tak beraturan ternyata lebih banyak dari kata yang beraturan.  Menurut penilaian saya sebenarnya orang Arab relatif lebih konsisten dan teratur (disiplin) daripada orang barat.  Tetapi mengapa dalam kehidupan nyata gejala demikian seringkali terbalik? Mungkin saja ada faktor lain.  Sama dengan bahasa daerah saya yang menurut saya lebih halus tanpa stratifikasi.  Artinya mungkin saja cermin masyarakat dikampung saya lebih santun dan demokratis.  Masalah buat saya adalah, apakah ia mereka tetap santun dalam menjaga hubungan dengan sesamanya serta mampu menerima kekalahan sebagai salah satu nilai dalam demokrasi? Coba tanya pada rumput yang bergoyang,…