Saya dan kita semua yakin, tidak ada olah raga yang paling menyedot spirit jutaan orang di seluruh dunia kecuali sepak bola.  Saya sebenarnya bukan penggila sepak bola yang suka memasang salah satu bendera negara kesebelasan favorit di atap rumah. Mungkin nasionalisme saya akan terusik kalau merah putih di ganti oleh bendera Spanyol, Brazil, Portugal, Jerman, Jepang, Meksiko, Korea, Belanda, Inggris, Perancis atau Argentina.  Saya juga bukan kelompok yang suka memakai kaos kesebelasan andalan sambil mencantolkan pin bendera kesebelasan di kaos dan baju. Saya mungkin masih bangga mencantolkan pin korpri sebagai simbol loyalitas pada negara. Saya juga tak berlebihan membanggakan kesebelasan Argentina sekalipun kalah di semi final oleh Jerman hingga memasang tenda buat nonton bareng. Jangankan itu, melihat penonton dengan gaya mencukur rambut hingga botak sambil menggambar warna bendera kesebelasan di kepala plus hidung dan pipi membuat saya geli sendiri.  Tapi semua itu menunjukkan spirit yang kuat bagi manusia di planet bumi ini. Lepas dari semua itu, tahun ini saya cukup tertarik menonton sepak bola di banding piala dunia empat tahun lalu.  Saya menarik tiga nilai penting dalam relevansinya dengan dinamika pemerintahan kita dewasa ini.  Apa makna yang dapat kita petik dari perhelatan akbar olah raga sepak bola? Pertama, adanya rule of the game (aturan main), marilah kita memulai hidup dengan aturan yang kita sepakati bersama.  Dalam konteks pemerintahan, cobalah pemerintah dan rakyat bermain dalam aturan yang disepakati bersama.  Saya yakin, kalau setiap orang paham akan aturan main, maka tak sulit membangun negeri ini, apalagi daerah sekecil kita.  Masalahnya, kalau yang buat aturan (legislatif) ikut bermain di air keruh, maka yang melaksanakan (eksekutif) juga akan menyimpang dari aturan yang telah ditetapkan.  Akibatnya, rakyat sebagai objek dan subjek terus menderita.  Dalam kenyataannya, berapa banyak masalah justru lahir dari para pembuat dan pelaksana aturan hingga menyengsarakan rakyat.  Disisi lain, banyak aturan di buat bagus oleh legislatif, dilaksanakan secara baik oleh eksekutif, tetapi dengan mudahnya di rusak masyarakat.  Saya pernah bilang bahwa pemerintah adalah produk dari rakyat, jadi kalau pemerintah rendah kualitasnya berarti rakyatpun logikanya demikian.  Tingginya angka kriminalitas masyarakat dewasa ini, banyaknya elite pemerintah yang berurusan dengan penegak hukum, serta sesaknya penjara dengan narapidana dari kelas teri hingga kakap sesungguhnya cermin dari hilangnya konsistensi terhadap rule of the game.  Apa bedanya dengan banyaknya kartu kuning dan kartu merah yang dikeluarkan wasit saat pemain melanggar aturan.  Kedua, adanya nilai cooperative. Suatu nilai kerjasama yang menggambarkan peran dari sebelas pemain untuk mencapai tujuan.  Setiap pemain memerankan diri mulai dari kiper hingga striker dengan kesadaran tinggi.  Mereka yang bermain dengan kesadaran relatif membentuk pola permainan yang bersifat kooperatif, teratur, tertib, akurat, serta menarik untuk di tonton.  Sebaliknya, mereka yang bermain prakmatis akan melakukan apa saja untuk mencapai gawang lawan.  Akibatnya, permainan terasa garing, unfairness, individualistik serta tak menarik untuk di tonton bareng.  Dalam konteks pemerintahan, kita membutuhkan nilai kooperatif untuk mencapai tujuan bersama.  Mengapa selama ini bangsa dan daerah kita relatif tertinggal di banding negara dan daerah lain?  Mungkin jawabannya adalah hilangnya salah satu nilai dasar kerjasama (gotong royong).  Cobalah amati gejala seperti ini di lingkungan kita, bukankah hilangnya kerjasama antara kepala daerah dan wakil kepala daerah, rendahnya kualitas hubungan antara kepala daerah dan DPRD, tingginya ketegangan antara pengusaha dan penguasa, serta buruknya hubungan antara pemerintah dengan rakyatnya menunjukkan hilangnya nilai kooperatif tadi.  Seandainya pemerintah dan segenap masyarakat saling memahami tugas dan kewajibannya, melaksanakan sesuai porsi yang diamanahkan, serta mampu membangun kerjasama dengan solid, maka saya boleh memastikan posisi bangsa kita bukan mustahil dapat berdiri sejajar di final piala dunia dengan Uruguay, Jerman, Spanyol ataupun Belanda di masa mendatang. Uruguay saja dengan penduduk kurang lebih 3 juta dapat menghasilkan 11 pemain terbaik, mengapa  kita yang memiliki jumlah penduduk kurang lebih 240 juta orang hasil sensus 2010 tak produktif menghasilkan 11 pemain berkualitas?  Sekali lagi, kita tak memiliki nilai kerjasama untuk menghasilkan manajemen yang handal, pelatih berpengalaman, pemain berbakat serta penonton yang santun.  Yang ada, manajer kita bermasalah, pelatih tak berpengalaman dalam skala international, pemain tak berkarakter serta penonton yang teramat nekat membuat keributan.  Saya kira tak begitu jauh dari fenomena pemerintahan lokal kita  saat ini, dimana pemimpinnya tak sedikit yang di rundung banyak masalah, birokrasi yang korup, serta masyarakat yang jauh dari kesadaran berpemerintahan. Kata salah seorang anggota dewan senior di DPR RI, apa susahnya membangun daerah kalau kita bisa duduk bersama? Buat komitmen di atas alasan yang jelas, bukan sebaliknya membuat alasan diatas komitmen yang tidak jelas.  Bagi rakyat, untuk melihat nilai kooperatif tadi cukup dengan satu pertanyaan, apakah pernah Kepala Daerah, Wakil Kepala Daerah, Ketua DPRD, Kapolda/res, Danrem/dim, Kajati/ri, Kepala Pengadilan, Pengusaha, Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat duduk berdampingan dalam satu pertemuan untuk membicarakan masa depan mereka?  Minimal membangun kerjasama positif di antara kelompok Muspida.  Kalau Muspida saja jarang bertatap muka, bagaimana mungkin nilai kooperatif tersebut dapat diwujudkan?  Yang ironis lagi, di sejumlah daerah nampak jelas perseteruan antara jajaran elite pemerintah  sendiri yang membuat rakyat terpecah belah hingga sulit membangun kerjasama yang baik.  Ketiga, nilai penting dalam sepak bola adalah adanya tujuan yang jelas (goals).  Semua aktivitas yang diperankan para pemain tentu saja harus berakhir pada tujuan yang jelas. Untuk apa anda bermain kalau hingga akhir pertandingan tak membuahkan gol bagi sebuah kemenangan.  Memang kemenangan bukan akhir dari segalanya, tetapi kemenangan menunjukkan suatu upaya untuk mengubah nasib dari lemah menjadi kuat, dari kecil menjadi besar, dari tak percaya diri menjadi lebih percaya diri (self confidance), dari tak berdaya menjadi berdaya (empowering) serta dari tak memiliki harga diri hingga memiliki harga diri (honorable).  Kalau saja setiap pemimpin memiliki visi yang jelas, maka misi, program dan kegiatannya pastilah mampu dibuktikan dilapangan, bukan sekedar janji saat kampanye.  Banyak sudah kepala daerah yang terlalu bernafsu membuat tujuan yang teramat ideal, tetapi dalam prosesnya tak ada tanda-tanda ke arah tujuan dimaksud.  Kebanyakan mereka meninggalkan pondasi tanpa menyelesaikan rumah dengan baik.  Bahkan tak sedikit yang tak berbuat apa-apa buat peningkatan kesejahteraan rakyat kecuali menggali lubang lalu menutup kembali.  Marilah kita belajar dari tuan rumah piala dunia kali ini, supaya dengan semangat itu kita dapat membuktikan bahwa kita mampu menyelenggarakan event bergengsi sepak bola.  Kalau Gayus saja dapat mengumpulkan uang hingga 26 M, bukankah dengan mudah kita dapat mengumpulkan kalau hanya 26 Triliun untuk persiapan piala dunia tahun 2022 ? Tentu dengan cara yang halal. Kuncinya, kejelasan rule of the game, cooperatif dan goals,…so, this time to Indonesia,……….