Kata pahlawan dan pengorbanan adalah dua hal yang berbeda namun memiliki hubungan yang ideal.  Kalau anda menyebut pahlawan, tentu identik dengan pengorbanan.  Sebab tak ada pahlawan yang luput dari pengorbanan baik harta maupun jiwa.  Pahlawan biasanya mengorbankan apa saja yang ia miliki.  Mereka berjuang tanpa pamrih.  Mereka mendahulukan kepentingan banyak orang dari sekedar kepentingan pribadi dan golongan.  Mereka menolong, bukan menjadi beban pada orang lain.  Mereka kaya akan kebajikan, bukan kaya dengan pujian.  Bahkan, para pahlawan nanti di kenang setelah mereka wafat. Bulan November merupakan bulan yang berkaitan dengan semangat kepahlawanan dan pengorbanan.  Kita memperingati nilai heroisme hingga terbentuknya kemerdekaan negeri ini. Kita juga diingatkan tentang nilai pengorbanan, sebab Nabi Ibrahim dan Ismail telah memperlihatkan makna pengorbanan yang sesungguhnya.

 

Pertanyaan kita adalah siapakah pahlawan yang mampu berkorban sebagaimana contoh demikian?  Adakah diantara kita yang rela mati demi untuk memperjuangkan kemaslahatan orang banyak? Atau paling tidak ikhlas mengorbankan harta demi mereka yang benar-benar sedang membutuhkan?

Menurut saya, pahlawan adalah mereka yang mampu mempertaruhkan profesi, harta, jabatan dan jiwanya demi keselamatan dan kebaikan orang banyak, tanpa mengharapkan pamrih yang berlebihan.  Simpelnya, kalau anda seorang guru, tentulah seorang guru yang memiliki semangat pengorbanan yang tinggi, mampu bertugas di pelosok desa yang paling jauh sekalipun tanpa banyak mengeluh.  Contohlah sejumlah guru di Pulau Selayar atau pulau-pulau terluar di Provinsi Ambon dan Papua, mereka dengan tekun dan sabar mengajar setiap hari tanpa mengeluh karena terjangan ombak.  Atau sekelompok guru yang bertugas di pedalaman Kalimantan, Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Mereka tak pernah surut hanya karena medan yang sulit, tanpa alat transportasi, apalagi menimbang gaji kecil.  Saya kira kita tak sulit menemukan pahlawan demikian, cobalah tengok guru-guru yang mengajar di pulau-pulau dan pedalaman kampung ini.  Kita yakin, masih banyak guru yang memiliki dedikasi, disiplin dan loyalitas yang tinggi untuk mempertaruhkan profesinya demi masa depan siswa-siswi yang diajar.  Merekalah pahlawan tanpa tanda jasa. Kalau anda seorang pengusaha yang memiliki harta disana-sini, contohlah para dermawan yang tak merasa kekurangan ketika merelakan hartanya untuk dibagi pada orang yang tertimpa bencana di kaki gunung Merapi, pesisir pantai Mentawai atau pedalaman Wasior.  Ini juga pahlawan. Jika anda seorang penguasa, setidaknya anda dapat mencontoh Presiden Chili (Pinera) yang betah menunggui warganya selama 69 hari terjebak dalam sebuah pertambangan.  Ia bersama ketua penambang (Urzula) mampu menyelamatkan puluhan pekerja tambang hanya dengan mengandalkan sekerat roti dan susu untuk setiap 48 jam yang dibagi rata.  Inilah pahlawan, sehingga salah satu kapling surga ditempati oleh pemimpin yang adil.  Apabila anda seorang yang berani mempertaruhkan jiwa, setidaknya anda dapat mencontoh seorang wanita cantik bernama Seniorita Valles, berusia 20 tahun asal Kota Praxedis, Mexico.  Mengapa saya menyuruh anda untuk mencontoh gadis manis lulusan kriminologi tersebut.  Coba anda bayangkan, ketika kota kecil tersebut dilanda perang antar gangster mafia narkotik, tak ada satupun yang mau menjadi polisi, apalagi menjadi kepala polisi.  Saat masyarakat di kota tersebut dilanda perasaan takut yang terus menghantui, pemerintah melakukan sayembara untuk merekrut seorang kepala polisi.  Tak ada seorangpun yang mendaftar, satu-satunya si Valles.  Kalau anda yang diminta menjadi kepala polisi di tempat tersebut tentu saja anda akan berpikir seratus kali ketika tau bahwa sejak Presiden Fellipe Calderon mendeklarasikan perang narkoba pada tahun 2008, sebanyak 7000 orang tewas mengenaskan di wilayah Juarez. Total 29.000 orang tewas sejak pencanangan perang anti narkoba.  Diantara yang tewas tersebut termasuk 11 walikota.  Satu diantaranya adalah Walikota Praxedis.  Parahnya, ketika ia dilantik menjadi semacam Kapolsekta di kota tersebut, hanya tersisa 3 orang anggota polisi, sebagian besar tewas, sisanya mengundurkan diri. Seniorita Valles adalah cermin seorang warga yang patut dikatakan pahlawan, sebab ia berani mempertaruhkan jiwa tanpa memikirkan gaji yang hanya 4000 peso atau setaraf 2,7 juta rupiah.  Siapa yang berani mempertaruhkan jiwa diantara ganasnya mafia narkotika tanpa proteksi yang menjamin masa depan diri dan keluarganya?  Sekarang, saya ingin anda mencari pahlawan di sekitar anda, apakah masih ada guru yang dengan telaten mengajar siswa tanpa mengeluh hanya karena gaji tak berkecukupan. Kalau ada, mungkin dialah pahlawan kita. Sebaliknya, jika ada guru yang jarang masuk kelas, mengajar tanpa standar yang jelas, pulang mendahului siswanya, apalagi sibuk mengatur spanduk kandidat kepala daerah, sarankan saja supaya segera masuk partai politik agar kalau terpilih bisa menjadi wakil rakyat, daripada mengorbankan siswa di kelas hanya untuk mempertahankan jabatan kepala sekolah. Bagi para pengusaha di kampung anda, lihatlah apakah mereka menjadi dermawan bagi masyarakat yang tertimpa bencana, atau justru menjadi provokator dalam demonstrasi disana-sini. Kita semua bangga, ketika Indonesia dalam keadaan krisis pada tahun 1998, salah seorang pengusaha terkenal di kampung ini telah menunjukkan kedermawanannya.  Semua orang tau, mudah-mudahan demikian seterusnya.  Sekarang tengoklah para pemimpin di daerah anda, apakah mereka telah mempertaruhkan jabatannya demi melindungi kepentingan masyarakat luas, atau sebaliknya berusaha mengeruk keuntungan di tengah penderitaan masyarakat.  Banyak kasus dimana projek yang berkaitan dengan keuntungan penguasa dimahalkan, supaya sang penguasa dan keluarganya diuntungkan. Sebaliknya, kalau menyangkut kepentingan masyarakat justru dimurahkan, supaya sisa keuntungannya kembali pada sang penguasa dan kroni-kroninya. Ini jelas sangat kontras dengan nilai kepahlawanan dan pengorbanan itu sendiri.  Akhirnya, lihatlah mental para penegak hukum di negeri ini, masih adakah diantara mereka yang berani berdiri ditengah pertikaian antar kepentingan hanya dengan bermodalkan keberanian, kejujuran, tanggungjawab moral dan profesi guna menegakkan keadilan ditengah-tengah masyarakat?  Saya dan anda tentu saja meragukan, dan saya pikir sulit mendapatkan pahlawan ideal seperti itu, sebab untuk mengurus Gayus saja mereka sudah kelimpungan, apalagi menghadapi pertikaian antara penguasa dan pengusaha di pusat dan daerah.