Kepada mereka yang benar-benar dan sungguh-sungguh serius memikirkan masa depan daerah ini, persoalan yang mesti ditekankan adalah seperti apakah Luwuk dan Banggai Kepulauan dalam lima hingga dua puluh tahun kedepan.  Apakah sama dengan kota-kota dipinggiran laut eropa, atau minimal seperti Kota Batam dan Singapura yang memiliki kesamaan karakteristik sehingga menjadi tempat persinggahan favorit aparat Pemda setiap kali studi banding. Kita tinggalkan dulu dinamika Sentral versus kurnia yang saya pikir akan berakhir dengan sendirinya. Menurut akal sederhana saya, sentral paling tidak merefleksikan kekuatan dari pusat, sedangkan kurnia (dari kata karunia) merepresentasikan kekuasaan dari sentuhan Yang Maha Besar Tuhan.  Mereka yang bijak seharusnya tak perlu mempertentangkan, sebab tanpa pusat, daerah tak mungkin dibentuk, demikian kata undang-undang dasar ‘45.  Selebihnya, tanpa sentuhan Tuhan, kemerdekaan yang dimulai dari pusat pemerintahan tak mungkin akan tercapai, sebab atas berkat rahmat Tuhan sajalah sehingga kemerdekaan di pusat dan daerah dapat kita raih, demikian makna alinea keempat dalam konstitusi. Jadi, tak perlu mendikotomikan kedua istilah diatas, apalagi mencari-cari makna dibalik kedua kata tersebut, percuma saja, hanya membuat kita saling curiga, iri dan dengki serta sahwasangka.  Yang perlu dipersoalkan secara serius adalah seberapa kuat komitmen setiap pasangan calon kepala daerah untuk mengubah arah dan masa depan daerah dari lebarnya kesenjangan antara kaya dan miskin, tumbuhnya kecerdasan di tengah-tengah masyarakat lewat kualitas pendidikan, berkembangnya kekuatan jasmani dan spiritual yang mampu menjamin masa depan dunia-akherat, serta berkurangnya pengangguran disebabkan terbatasnya lapangan pekerjaan sebagai sumber penghidupan yang layak.  Komitmen mereka perlu ditelusuri dalam proposal visi, misi, program dan kegiatan sehingga tak melulu meninggalkan apa yang sedang trend dewasa ini, yaitu kebohongan publik.  Sebagai pemerintah, jujur saja kita tak begitu nyaman disebut pembohong.  Yang mungkin adalah belum tercapai, atau masih dalam proses dengan sejumlah catatan kendala yang sedang dihadapi.  Mungkin kita masih rela menerima istilah gagal, daripada dikatakan pembohong.  Bagi mereka yang sudah cukup maqomnya, atau sudah sampai pada tingkat kecerdasan yang memadai, semua pesan dibaca secara terbalik, yaitu apa yang sesungguhnya tersirat bukan sekedar yang tersurat.  Maka, kepada mereka, saya hanya bisa menyarankan agar mampu membaca dengan pendekatan dialektika Hegel. Setiap pesan sebaiknya dibaca dengan mata hati, bukan sekedar mata telanjang.  Kalau ini sudah bisa dilakukan, maka langkah berikutnya adalah mendidik yang lain supaya mencapai kesempurnaan membaca sebagaimana anda mencapai level nirwana.  Tanpa itu, maka kita hanya akan menghabiskan energi dalam perdebatan soal redaksional, tekstual, teknis operasional hingga menghilangkan makna substansial yang pokok.

Kini, marilah kita ajak semua pasangan kandidat kepala daerah untuk duduk dan  membedah dengan seksama setiap gagasan yang akan diperjualbelikan pada masyarakat.  Biarkan mereka berdialog dengan masyarakat agar semua paham apa yang dibutuhkan rakyat, dan sebaliknya rakyat paham apa yang akan dilakukan oleh calon pemimpinnya.  Darisanalah saya pikir arah pembangunan daerah ini akan tampak secara terang benderang.  Rakyat yang suka minta macam-macam akan kelihatan dari apa yang dibicarakan, supaya kita juga tau mana permintaan yang logis dan mana yang hanya sekedar basa-basi.  Sederhananya, apakah mereka masih terbiasa dengan sinole, atau jangan-jangan selera mereka sudah setaraf dengan KFC.  Disini pula akan tampak mana kandidat yang benar-benar memiliki gagasan cemerlang, bahkan memiliki strategi yang kuat untuk mampu merealisasikan.  Kadang banyak kandidat yang suka bermain retorika, namun ketika ditanya soal bagaimana strategi operasional untuk merealisasikan mimpi yang muluk-muluk tadi tibalah pada kebingungan yang menggelikan, bahkan meragukan.   Para politisi lokal sebagai penguji dalam fit and proper test seringkali kehilangan instrument seleksi.  Tak ada dokumen RPJP dan RPJMD diatas meja sebagai alat bedah terhadap setiap visi dan misi kandidat untuk setidaknya mempersoalkan komitmen, konsistensi dan kontinuitas pembangunan daerah dalam lima hingga dua puluh tahun kedepan.   Sayang sekali, ruang dialektika di desain memang bukan untuk memeras energi para kandidat supaya mencurahkan seluruh gagasannya diatas rencana pembangunan daerah yang paling realistis, melainkan ruang untuk memenuhi aspek ritual-formal dalam bentuk pelepasan anggaran.  Thomas Jeferson Rafles, seorang ahli botani yang gagal mengembangkan Bengkulu dan Bogor tak membutuhkan waktu lama untuk mendesain Singapura.  Ia hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu kali RPJP daerah plus lima tahun (20 + 5 = 25 tahun) untuk menyelesaikan sebuah negara (bukan membuat sebuah daerah semisal Banggai) dengan pertumbuhan ekonomi kurang lebih 12 persen pertahun diatas jumlah penduduk 6,5 juta jiwa.   Sekarang, kalau saja kita ingin melihat daerah terang benderang dalam lima hingga dua puluh tahun kedepan, perlu kiranya kita tak segan-segan berguru ke daerah lain yang setidaknya jelas masa depannya.  Jangan berguru pada daerah yang suram masa depannya.  Inilah makna berguru, seperti kata asalnya guru (sansekerta), dimana ‘gu’ yang berarti gelap, kegelapan (darkness) dan ‘ru’ yang berarti terang (light).  Sama seperti mereka yang berprofesi sebagai guru, tugasnya hanya satu, yaitu memastikan setiap anak didiknya dipandu dari sebuah kegelapan menuju ke ruang yang terang benderang.  Para nabi juga memiliki misi yang sama, yaitu membawa umatnya dari alam yang gelap gulita menuju alam yang penuh terang benderang.  Oleh karena para pemimpin hanya berada satu digit dibawah para nabi, maka visi dan misi mereka selekas mungkin kita koreksi, agar mampu mengarahkan pembangunan daerah ini dari kegelapan menuju semesta yang terang benderang. Minimal dari jalan yang rusak menuju jalan yang lurus dan mulus tentunya.